<<< SELAMAT DATANG DI SISTEM PERPUSTAKAAN MAHKAMAH AGUNG RI >>>

DETAIL CANTUMAN
Kembali ke sebelumnya  
Judul Amandemen undang-undang Peradilan Agama (UU RI No.50 Tahun 2009)
Edisi Cet. 1.
No. Panggil 347.01 Ind a
ISBN/ISSN 978-979-007-336-4
Pengarang
Subyek Pengadilan Agama
Klasifikasi 347
Judul Seri
GMD Buku
Bahasa Indonesia
Penerbit Sinar Grafika
Tahun Terbit 2010
Tempat Terbit Jakarta
Deskripsi Fisik vii,160 hlm. ; 21 cm.
Abstrak/Catatan
Info Detil Spesifik Pemerintah melakukan perubahan kedua atas Undang - undang No. 2Th.1986 tentang peradilan umum untuk meletakan dasar kebijakan bahwa segala urusan mengenai peradilan umum, pengawasan tertinggal baik menyangkut teknis yudisial maupun non yudisial, yaitu urusan organisasi administrasi, dan finansial berada di bawah kekuasaan Mahkamah Agung
Gambar Sampul
Lampiran Berkas
LOADING LIST...
Ketersediaan
LOADING LIST...
  Kembali ke sebelumnya







Berita Terbaru

4, September 2013

Membangun Perpustakaan Ideal Berorientasi Kepuasan Pengguna Berbasis Teknologi

Perpustakaan mempunyai peranan penting dalam mencerdaskan kehidupan Bangsa dan Negara, karena perpustakaan adalah gudang ilmu dan merupakan salah satu sarana penting dalam mewujudkan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang unggul. Seiring perkembangan jaman, perpustakaan saat ini dipergunakan tidak hanya sebagai salah satu pusat informasi atau sumber ilmu pengetahuan melainkan juga untuk penelitian, rekreasi, pelestarian khasanah budaya bangsa serta berbagai jasa lainnya. Untuk mengoptimalkan peran tersebut, pengorganisasian informasi perlu dilakukan untuk memudahkan pengguna perpustakaan dalam menemukan informasi yang dibutuhkan secara cepat dan tepat. Oleh karena itu, layanan yang dilakukan selalu berorientasi pada masyarakat, sebagai pengguna informasi dengan basis teknologi yang tepat guna. Kepuasan pengguna merupakan petunjuk utama bagi pelaksana pengorganisasian informasi. Selain untuk mempermudah dan memperluas akses, perpustakaan hendaknya mampu melakukan manajemen pengetahuan secara maksimal dan diharapkan lebih memfokuskan diri sebagai community information intermediary, yaitu institusi yang dapat memahami dan ber-empati terhadap komunitas pengguna, memiliki pemahaman yang mendalam terhadap dunia informasi dan organisasinya serta dengan aktif selalu mengembangkan dan meningkatkan mekanisme yang menghubungkan keduanya. Pemberdayaan perpustakaan dan pustakawan dalam paradigma baru harus disesuaikan dan ditingkatkan seiring dengan perubahan tuntutan pengguna, yaitu akses informasi secara lebih luas, cepat dan tepat. Semakin pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan semakin beragamnya teknologi canggih membawa perubahan pula pada masyarakat dan individu. Perubahan tersebut pada akhirnya akan mempengaruhi pula pada tuntunan terhadap kondisi keberadaan perpustakaan. Indikator perpustakaan ideal yang dulu diukur dari jumlah koleksi yang banyak dan gedung yang besar, sekarang sudah berubah menjadi sejauh apa perpustakaan mampu memenuhi kebutuhan komunitas pemakainya Perpustakaan saat ini dituntut mampu berubah mengikuti perubahan sosial pemakainya. Perkembangan Teknologi Informasi (TI) telah banyak mengubah karakter sosial pemakainya. Perubahan dalam kebutuhan informasi, berinteraksi dengan orang lain, berkompetisi, dan lain-lain. Pada akhirnya semua itu berujung pada tuntutan pemakai agar perpustakaan tidak hanya sekedar tempat mencari buku atau membaca majalah, tetapi menjadi semacam one-stop station bagi mereka Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi atau Information and Comunication Technology (ICT) telah membawa perubahan dalam berbagai sektor, termasuk dunia perpustakaan. Jika dulu pemakai perpustakaan sudah puas dengan layanan baca di tempat dan peminjaman buku perpustakaan saja, saat ini layanan perpustakaan tidak cukup lagi hanya dua macam layanan tersebut. Pemakai perpustakaan sekarang sudah menuntut jenis-jenis layanan lain, seperti layanan informasi terbaru (current awareness services), layanan informasi terseleksi (selective dissemination of information), layanan penelusuran secara online, layanan penelusuran dengan CD-ROM, dan lain-lain. Selain tuntutan terhadap jumlah layanan yang makin banyak, mutu layanan pun dituntut lebih baik. Dalam rangka peningkatan mutu dan jumlah layanan inilah, peran teknologi informasi dan komunikasi sangat dibutuhkan. Dengan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi, kita dapat melakukan layanan yang cepat dengan jangkauan layanan yang lebih luas serta mutu yang lebih baik. Perkembangan dari penerapan teknologi informasi dan komunikasi dapat diukur dengan telah diterapkannya/ digunakannya sebagai Sistem Informasi Manajemen (SIM) perpustakaan dan perpustakaan digital . Sistem Informasi Manajemen (SIM) perpustakaan merupakan pengintegrasian antara bidang pekerjaan administrasi, pengadaan, inventarisasi, katalogisasi, pengolahan, sirkulasi, statistik, pengelolaan anggota perpustakaan, dan lain-lain. Sistem ini sering dikenal juga dengan sebutan sistem otomasi perpustakaan. Dengan penerapan SIM ini secara langsung merubah paradigma layanan perpustakaan. Layanan perpustakaan yang dulunya off-line berubah menjadi on-line. Di sini Perpustakaan harus mampu merancang layanan perpustakan yang memungkinkan akses terhadap sumber-sumber informasi (information resources). Hal ini mengisyaratkan bahwa pemanfaatan perpustakaan tidak lagi bergantung pada visitasi pemakai perpustakaan atau bertumpu pada kunjungan secara fisik semata, tetapi pemanfaatannya dapat dilakukan setiap saat dan dari berbagai tempat dimanapun pengguna berada. Ada dua hal utama yang perlu diperhatikan dalam memberdayakan perpustakaan sebagai upaya meningkatkan layanan perpustakaan berorientasi pengguna berbasis teknologi yaitu: 1. Ditinjau dari segi sarana dan prasarananya termasuk gedung dan lokasi 2. Ditinjau dari segi SDM yang mengelola perpustakaan tersebut Secara garis besar, dua hal di atas bisa dijelaskan sebagai berikut. 1. Ditinjau dari segi sarana dan prasarananya termasuk gedung dan lokasi Gedung perpustakaan hendaklah menarik dari segi arsitektur dan mudah dijangkau. Penggunaan warna juga bisa merupakan daya tarik yang akan membangkitkan minat baca pengguna. Selain itu sarana dan prasarana pendukung layanan perpustakaan hendaklah didukung oleh Teknologi Informasi (TI) yang akan sangat membantu perpustakaan memperbaiki kalitas dan jenis layanan. Minimal sebuah perpustakaan harus memiliki : Jaringan Lokal (LAN , Local Area Network) berbasis TCP/IP Akses ke internet yang cepat bagi pustakawan untuk mengakses informasi eksternal perpustakaan beserta perangkatnya. Komputer untuk pengguna untuk mengakses informasi layanan perpustakaan berikut database persediaan koleksi yang dimiliki perpustakaan tersebut. Ditambah lagi Pustakawan menyediakan akses hanya ke sumber-sumber yang dapat dipercaya kualitasnya. Caranya dengan membuat portal atau pintu masuk ke sumber-sumber yang telah terseleksi misalnya Virtual Libraries subject-based gateways. Koleksi dalam multi format baik dalam bentuk tercetak, multimedia, digital, hypertext berikut sarana untuk mengakses koleksi tersebut Adanya fasilitas digital dan internet, Fasilitas digital dan internet memungkinkan pengguna perpustakaan dapat memanfaatkan informasi yang dimiliki perpustakaan tanpa mengenal waktu dan jarak. Homepage perpustakaan dapat menyajikan data bibliografis dan abstrak dari jurnal-jurnal penelitian (kalau memungkinkan dalam bentuk full text), pendidikan pemakai, berita-berita perpustakaan, informasi lokal (universitas, kota), pameran online, media komunikasi dengan pengguna (saran dan kritik), hubungan dengan situs lain, dan sebagainya. Hot Spot Hot Spot berarti menyediakan layanan internet bebas untuk suatu lingkungan yang terbatas, sebagai contoh di sekitar gedung perpustakaan. Dengan memiliki hot spot perpustakaan menyediakan jasa penelusuran internet yang dapat diakses oleh pengguna dari Laptop/Note Book yang biasa dibawa oleh pengguna, dengan syarat memiliki LAN Card Wireless. 2. Ditinjau dari segi SDM yang mengelola perpustakaan tersebut Dalam menghadapi tuntunan kebutuhan pengguna perpustakaan yang semakin tinggi dan beraneka ragam, maka perpustakaan perlu mempersiapkan pustakawan yang profesional. Jika pustakawan ingin disebut profesional, maka pustakawan perlu memiliki "¯skill"¯, "knowledge"¯, kemampuan (ability), serta kedewasaan psikologis (Ratnaningsih, 1998). Namun dalam prakteknya sampai sejauh ini pustakawan Indonesia belum bisa dikatakan mampu untuk menjadi profesional (ideal pun belum ) bahkan masih sangat jauh dari konsep ideal. Sebagai pustakawan profesional, kita perlu mengikuti perkembangan dan informasi mutakhir dalam bidang Pusdokinfo. Perkembangan TI mengakibatkan semua bidang pekerjaan perpustakaan tidak ada lagi yang tidak mendapat sentuhan "¯keajaiban"¯ TI. Keilmuan perpustakaan pun saat ini dituntut mampu mengikuti perubahan sosial pemakainya. Perubahan dalam kebutuhan informasi, perubahan dalam berinteraksi dengan orang lain, dan dalam berkompetisi. Pustakawan perlu menyadari bahwa perlu ditumbuhkan suatu jenis kepustakawanan dengan paradigma-paradigma baru yang mampu menjawab tantangan media elektronik tanpa meninggalkan kepustakawanan konvensional yang memang masih dibutuhkan (hybrid library). Hanya dengan sumber daya manusia (SDM) dalam hal ini tenaga pengelola perpustakaan dan tenaga fungsional pustakawan yang berkualitaslah (melalui keilmuannya) kita bisa membangun paradigma kepustakawanan Indonesia. Oleh karena itu profil pustakawan diharapkan : 1.Berorientasi kepada kebutuhan pengguna 2.Mempunyai kemampuan berkomunikasi yang baik 3.Mempunyai kemampuan teknis perpustakaan yang tinggi 4.Mempunyai kemampuan pengembangan secara teknis dan prosedur kerja 5.Kemampuan berbahasa asing yang memadai terutama bahasa Inggris 6.Mempunyai kemampuan melaksanakan penelitian di bidang perpustakaan. 7.Mempunyai kemampuan dalam memanfaatkan kemajuan teknologi informasi, antara lain: - Kemampuan dalam penggunaan komputer (computer literacy) - Kemampuan dalam menguasai basis data (database) - Kemampuan dalam penguasaan peralatan TI (tools and technological skill) - Kemampuan dalam penguasaan teknologi jaringan ( computer networks) - Kemampuan dalam penguasaan internet dan intranet Selain memiliki kemampuan seperti yang disebutkan diatas, pustakawan juga dituntut untuk dapat memberikan pelayanan prima kepada penggunanya. Pelayanan prima yaitu suatu sikap atau cara pustakawan dalam melayani penggunanya dengan prinsip layanan berbasis pengguna (people based service) dan layanan unggul (service excellence). Tujuan dari service excellence adalah : 1. Memuaskan pengguna; 2. Meningkatkan loyalitas pengguna; 3. Meningkatkan penjualan produk dan jasa; 4. Meningkatkan jumlah pengguna. Profesi pustakawan dituntut untuk mampu bersikap lebih terbuka, suka kerja keras, suka melayani, mengutamakan pengabdian serta aspek-aspek kepribadian dan perilaku. Dalam mengantisipasi masa mendatang, pustakawan hendaknya selalu tanggap terhadap perkembangan teknologi informasi, mengenal seluk beluk manajemen, menguasai cara-cara penyediaan informasi, dan memahami sumber-sumber informasi, serta mengetahui sistem jaringan informasi. Hal lain yang perlu dilakukan oleh perpustakaan adalah menjalin kerja sama dengan perpustakaan lain. Kerja sama antar perpustakaan perlu dilakukan karena tidak satu pun perpustakaan yang dapat berdiri sendiri dalam arti informasi/koleksinya mampu memenuhi kebutuhan informasi penggunanya, sehingga jawaban ¯informasi yang Anda cari tidak ada di perpustakaan kami¯ tidak akan berlaku lagi. Setidaknya pustakawan dapat memberi alternatif artikel atau menunjukkan dimana artikel tersebut dapat diperoleh. Selain itu, waktu layanan perpustakaan hendaklah berorientasi terhadap kesibukan masyarakat. Layanan di perpustakaan ideal nya dapat lebih memikat, bersahabat, cepat, dan akurat, ini berarti orientasi pelayanan perpustakaan harus didasarkan pada kebutuhan pengguna, antisipasi perkembangan teknologi informasi dan pelayanan yang ramah, dengan kata lain menempatkan pengguna sebagai salah satu faktor penting yang mempengaruhi kebijakan pada suatu perpustakaan, kesan kaku pelayanan diperpustakaan harus dieliminir sehingga perpustakaan berkesan lebih manusiawi. Pemberdayaan perpustakaan dengan sarana dan prasarana yang mengikuti tuntunan zaman memang harus dipersiapkan agar tidak ditinggal penggunanya. Selain itu keberadaan pustakawan yang berkualitas dan profesional sangat diperlukan dalam menghadapi tatanan era informasi global. Pembangunan perpustakaan ideal yang berorientasi pengguna berbasis teknologi harus segera diimplementasikan di perpustakaan untuk menunjang proses akselerasi transfer ilmu pengetahuan, yang secara global dapat mempengaruhi tingkat kecerdasan dan berimbas pada kemajuan bangsa dalam segala bidang, berorientasi pada pengguna, berarti perpustakaan telah menempatkan pengguna sebagai subjek dari layanan perpustakaan, berbasis teknologi berarti perpustakaan mampu menjawab tantangan jaman yang dinamis ini. Semoga perpustakaan - perpustakaan di tanah air mampu mengikuti tuntunan jaman yang ada agar Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas mampu terwujud dan kemajuan Negara lebih cepat tercapai. Penulis: Risa Mutia H Referensi : Rahayuningsih, F. Profesionalisme Pustakawan dalam Menghadapi Tuntutan Kemajuan Teknologi. Jurnal Info Persadha. Vol. 4, Nomor 1, Februari 2006. Fahmi, Ismail The Indonesian Digital Library Network. Makalah Seminar International Digital Library Network, tanggal 2 Oktober 2003 di ITB. Sudarsono, B. Peran Pustakawan di Abad Elektronik: Impian dan Kenyataan. Makalah Seminar Sehari Peran Pustakawan di Abad Elektronik: Impian dan Kenyataan. Tanggal 2 Juni 2000 di PDII-LIPI, Jakarta. Perpustakaan Digital, Wikipedia Indonesia.

5, September 2013

Membangun Masyarakat Cinta Perpustakaan

Informasi merupakan sumber daya yang strategis sepanjang hidup kita. Sebagai negara yang sedang membangun maka informasi merupakan bagian yang sangat penting dalam pembangunan. Selain itu informasi juga sangat diperlukan dalam bidang pendidikan dan penelitian untuk pengembangan ilmu pengetahuan , teknologi , dan juga seni budaya. Perpustakaan merupakan salah satu lembaga yang mengurusi hal hal yang berkaitan dengan informasi, mulai sejak dari menghimpun , mengolah sampai menyajikan informasi tersebut pada para penggunanya. Perpustakaan , sudah kita kenal sejak kita bersekolah untuk pertama kalinya. Perpustakaan merupakan pintu gerbang pengetahuan , menyediakan kebutuhan dasar pembelajaran bagi para penggunanya. Selain itu pula perpustakaan ikut andil besar dalam pengembangan kebebasan dan budaya, baik bagi individu ataupun kelompok. Perpustakaan adalah tempat yang sangat mengasyikan untuk mencari segala informasi dan sebagai wahana untuk menambah referensi ilmu pengetahuan yang kita miliki. Suatu perpustakaan , baik itu besar ataupun kecil, perlu diatur dengan system agar dapat memberi pelayanan yang baik dan memuaskan kepada para masyarakat pengunjungnya. Setiap warga masyarakat yang ingin menggunakan perpustakaan tentunya mengharapkan pelayanan yang baik dari pihak perpustakaan itu sendiri. Pelayanan yang cepat dan tanggap merupakan salah satu yang diharapkan. Artinya untuk memperoleh layanan orang tidak harus menunggu lama. Juga diharapkan pelayannannya tepat waktu dan benar. Aktifitas perpustakaan yang teratur dan baik, seharusnya mempunyai beraneka bahan bahan pustaka dari berbagai macam jenis , sumber dan referensi. Tulisan tulisan dan buku buku dari berbagai bidang mulai dari yang paling lama hingga yang terbaru pun diharapkan berada di dalamnya. Juga yang tidak kalah pentingnya perpustakaan harus dikoordinir oleh seorang pustakawan yang aktif. Sehingga para pengguna kita merasa nyaman berada di dalam nya. Jika berbicara mengenai permasalahan perpustakaan di Indonesia tetulah sangat kompleks. Mulai dari masyarakat sendiri yang belum memahami pentingnya sebuah perpustakaan , pengelolaan perpustakaan yang terkesan setengah hati, hingga sampai pengadaan buku buku di perpustakaan yang menjadi darah daripada perpustakaan itu sendiri. Tergantung pngelolaan nya, harus dimengerti bahwa di perpustakaan harus ada sarana untuk pencarian, kalau dulu mungkin dengan katalog, sekarang mungkin dengan pemanfaatan database yang serba IT. Namun itupun belum merata penyebarannya di berbagai perpustakaan di Indonesia. Dan juga sebenarnya kemasan perpustakaan itu sendiri haruslah diubah. Pelayanan publiknya harus dinaikkan. Sosialisasi ke msyarakatnyapun juga harus dilakukan. Yang benar benar terlihat sangat menonjol adalah tentang pengadaan buku. Dimana sebuah perpustakaan bisa kalah pamor dengan rental rental buku swasta yang bertebaran di sekelilingnya. Mengapa bisa terjadi demikian? Dilihat dari pengadaan buku bukunya di rental buku swasta , bukunya lebih ter up to date, dimana muncul buku baru , beberapa hari kemudian di rental itu pun buku baru tersebut sudah ada. Lalu mengenai pelayanannya , bisa di lihat di rental rental buku swasta , pelayanannya lebih ramah, nampak bersahabat dan tidak terlihat konvensional. Itulah mungkin yang menjadikan kurangnya minat masyarakat untuk datang ke perpustakaan. Kenyamanan dalam sebuah ruang baca di dalam perpustakaan juga turut memberi andil yang besar dalam menumbuhkan masyarakat cinta perpustakaan. Semakin nyaman kita, semakin senang pula kita berada di dalamnya. Dan mungkin yang patut disoroti adalah kebudayaan gemar membaca yang terlihat masih sangat kurang. Padahal dengan membaca , kita bisa melihat perkembangan dunia di sekeliling kita , mendapatkan ilmu lebih , ataupun mendapatkan sebuah pengetahuan yang sebelumnya kita tidak tahu sama sekali. Sebenarnya , sejak pertengahan 1997 dimana terjadi krisis moneter, perkembangan perpustakaan di Indonesia agak tertahan. Hal ini karena pengembangan perpustakaan belum menjadi prioritas yang utama di dalam program pemerintah ataupun sektor swasta. Bisa dikatakan anggaran untuk perpustakaan adalah sangat minim. Keadaan ini dibenarkan oleh pernyataan pemerintah melalui Mendikbud , Wardiman Djojonegoro ( 1997 ) , bahwa anggaran pemerintah untuk pengadaan buku masih sangat terbatas. Pemerintah sendiri masih dibantu oleh World Bank untuk pengadaan buku. Oleh karena itu Mendikbud menyarankan agar perpustakaan diupayakan sendiri, misalnya BP3 atau usaha lain tanpa harus menunggu dari pemerintah. ( Suara Pembaharuan, Selasa 18-03-1997 ). Perpustakaan umum baik yang berupa perpustakaan provinsi, kabupaten / kota ataupun perpustakaan desa maupun perpustakaan keliling seharusnya disediakan sebagai sarana public service yang dapat mendorong kegemaran dan kebiasaan membaca guna menambah pengetahuan masyarakat untuk memajukan kesejahteraan pribadi, memajukan pendidikan seumur hidup, ekonomi dan juga sosial. Namun yang menjadi pertanyaan mampukah perpustakaan perpustakaan umum kita yang ada sekarang ini memberikan pelayanan yang sebaik baiknya dalam hal bahan bacaan sesuai dengan kebutuhan pemakai yang beraneka ragam. Keadaan Perpustakaan secara fisik juga harus di perhatikan sehingga mampu menarik minat masyarakat untuk berkunjung ke perpustakaan. Sosialisasi dan operasionalnya pun harus dilaksanakan dengan sebaik baiknya dan dilakukan secara trus menerus. KESIMPULAN DAN SARAN Perpustakaan adalah jendela dunia. Perpustakaan haruslah dengan sebaik baiknya dapat memberikan bantuan kepada para pembaca untuk memperoleh bahan pustaka ataupun informasi yang sesuai dengan kebutuhannya. Oleh karena itu kegiatan pelayanan merupakan cara untuk mempertemukan para pembaca dan informasi yang dicari. Pelayanan yang baik merupakan salah satu hal terpnting dalam sebuah perpustakaan. Pelayanan yang ramah dan menarik dan mudah, tentulah dapat menarik minat para pengguna perpustakaan untuk terus berda di dalamnya. Selain itu hendaklah sebuah perpustakaan terjaga kebersihannya dan kerapihannya. Jangan sampai sebuah perpustakaan terlihat seperti gedung tua dimana orang yang baru melihatnya saja enggan untuk mendatanginya. Sebaiknya perpustakaan terlihat indah dan elegan dari luarnya. Sedangkan di bagian dalamnya sebuah perpustakaan haruslah terlihat rapi , bersih, indah dan tidak ketinggalan jaman. Maksudnya , sekarang adalah jamannya cyber dan internet , tidak salah jika di dalam sebuah perpustakaan terdapat beberapa atau banyak komputer yang tersambung dengan jaringan internet , sehingga semisal ada pengguna yang tidak menemukan apa yang dicarinya di dalam perpustakaan dia langsung dapat menggunakan internet sebagai sarana lain untuk mencari apa yang di perlukannya. Mutu pelayanan yang baik akan menarik minat banyak pembaca dan akan mendapatkan penghargaan dari masyarakat. Untuk meningkatkan mutu pelayn perpustakaan dapat diupayakan dengan kegiatan kegiatan sebagai berikut : Pelayanan yang ramah dan berpenampilan menarik dalam memberikan pelayanan kepada para pengguna perpustakaan baik itu yang ingin meminjam ataupun yang hanya ingin sekedar bertanya. Mengiklankan dan mensosialisasikan tentang fasilitas apa saja yang berada di dalam perpustakaan. Mengadakan berbagai perlombaan di perpustakaan tersebut. Seperti lomba bercerita ataupun lomba menulis artikel yang kontennya berasal dari buku buku yang berada di perpustakaan. Mengadakan studi tour bersama di dalam perpustakaan. Mengundang tokoh masyarakat atau pakar untuk memberikan ceramah ataupun menceritakan pengalamannya. Membuat jadwal kegiatan dan peraturan yang baik dan rapi namun tidak terkesan rumit dan menyulitkan. Membuat berbagai kegiatan menarik diperpustakaan sesuai dengan kondisi dan situasi yang ada di sekitarnya. Perpustakaan hendaknya mengikuti perkembangan jaman. Meletakkan beberapa komputer yang sudah online di dalam perpustakaan dirasakan sangat perlu. Bahkan jika memungkinkan sebaiknya dibuat ruangan khusus untuk online di dalam perpustakaan itu sendiri. Disinilah peran pustakawan, keadaan perpustakaannya yang serba kekurangan sudah tentu selalu dituntut untuk bersikap aktif, kreatif, progresif dalam menjalankan misi perpustakaan secara nasional bahkan international. Kebutuhan pemakai bahan bahan pustaka harus mendapatkan perhatian sesuai dengan keinginan pemakai sehingga menimbulkan kepercayaan bahwa perpustakaan betul betul merupak sumber ilmu dan sumber informasi. Penulis: M.E.R Herki Artani, SH.

27, September 2013

Menelusuri Sejarah Perpustakaan Dari Masa Sebelum Masehi Hingga Yunani dan Arab

Library of Birmingham. Perjalanan perpustakaan diperkirakan sudah ada sejak 5000 tahun yang lalu, perpustakaan memiliki beberapa prinsip yaitu diciptakan oleh masyarakat, dipelihara oleh masyarakat, terbuka untuk semua orang, harus berkembang dan pengelolaannya harus orang yang berpendidikan (Lasa, 2009:263). Perpustakaan berasal dari kata pustaka yang artinya kitab atau buku. Perpustakaan dalam bahasa Arab berarti maktabah, bibliotheca (bahasa Italia), bibliotheque (bahasa Perancis), bibliothek (bahasa Jerman), bibliotheek (bahasa Belanda)(Lasa, 2009:262). Akar kata library adalah liber (bahasa latin) artinya buku, sedangkan akar kata bibliotheek adalah biblos yang artinya buku (Yunani), sebagai bentuk lanjut perkembangan kata ini, dalam kehidupan sehari-hari sering dikenal Bible artinya Alkitab. Dengan demikian istilah perpustakaan selalu dikaitkan dengan buku atau kitab. Jadi tidak mengherankan apabila definisi perpustakaan selalu mengacu pada buku dan segala aspeknya (Sulistyo-Basuki, 1994:2). Sebuah perpustakaan mempunyai ciri-ciri dan persyaratan tertentu seperti tersedianya ruangan atau gedung yang digunakan khusus untuk perpustakaan, adanya koleksi atau bahan bacaan dan sumber informasi lainnya, adanya petugas yang menyelenggarakan kegiatan dan melayani pengguna perpustakaan, adanya komunitas masyarakat pengguna perpustakaan, diterapkan suatu sistem atau mekanisme tertentu yang merupakan tata cara, prosedur, dan aturan agar segala sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan perpustakaan dapat berjalan dengan lancar, adanya sarana dan prasarana yang diperlukan antara lain; meja, gedung, komputer, dan lain-lain (Sutarno, 2006:12). Perpustakan merupakan sistem informasi yang dalam prosesnya terdapat aktivitas pengumpulan, pengolahan, pengawetan, pelestarian, dan penyajian (Lasa, 2009:262). Menurut Sulistyo-Basuki perpustakaan adalah kumpulan buku atau akomodasi fisik tempat buku dikumpulsusunkan untuk keperluan bacaan, studi, kenyamanan ataupun kesenangan. Jadi konsep perpustakaan mengacu pada bentuk fisik tempat penyimpanan buku maupun sebagai kumpulan buku yang disusun untuk keperluan pembaca. Sedangkan menurut Qalyubi dkk (2007:4) perpustakaan secara konvensional adalah kumpulan buku atau bangunan fisik tempat buku dikumpulkan, disusun menurut sistem tertentu untuk kepentingan pemakai. Adapun didalam Undang-Undang no 43 tahun 2007 (2010:75) perpustakaan memiliki pengertian yaitu institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, atau karya rekam secara profesional dengan sistem baku memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi dan rekreasi para pemustaka. Menurut Laugu (2011: 207) bahwa perpustakaan bukan hanya berorientasi besar atau kecilnya koleksi yang dimiliki, melainkan koleksi yang ada harus digunakan meskipun hanya satu buku atau bahkan satu huruf saja, hal itu sudah dapat disebut sebagai perpustakaan. Dan lebih lanjut lagi Laugu (2011:185) mengatakan bahwa perpustakaan harus memberikan pengaruh kepada masyarakat karena kemajuan masyarakat menunjukkan kemajuan perpustakaan baik dalam bidang ilmu pengetahuan,budaya, sosial dan lainnya dan begitu sebaliknya. Jadi perpustakaan dapat dikatakan sebagai koleksi yang terdiri dari satu atau beberapa buku yang digunakan oleh pengguna, sehingga memberikan pengaruh atau manfaat bagi pengguna yang menggunakan koleksi perpustakaan. Pada dasarnya perpustakaan merupakan bagian dari budaya suatu bangsa, khususnya yang berkenaan dengan budaya literasi, budaya baca, budaya tulis, dokumentasi dan informasi. Dan kebudayaan itu sendiri dapat diartikan sebagai hasil cipta, karsa dan karya manusia, yang terjadinya membutuhkan waktu dan proses panjang, setelah diadaptasi, diuji, dikaji dan diterima oleh masyarakat. Perpustakaan merupakan salah satu simbol peradaban umat manusia, sehingga masyarakat yang telah memiliki perpustakaan yang berkembang baik dan maju, maka masyarakat itulah yang diindikasikan sebagai masyarakat yang berperadaban tinggi (Sutarno, 2006:14-15). Sejarah perkembangan perpustakaan telah dimulai jauh sebelum Masehi. Perkembangan perpustakaan diwarnai dengan perkembangan peradaban dan kebudayaan manusia itu sendiri (Nurhadi, 1983:15). Perpustakaan yang kita kenal seperti sekarang ini adalah lebih tua daripada kertas, buku dan mesin cetak. Sebab perpustakaan telah ada jauh sebelum benda-benda tersebut ditemukan orang. Perkembangan perpustakaan diperkirakan diawali dengan berkembangnya budaya dan pengenalan bentuk huruf-huruf sebagai formulasi suara atau bahan komunikasi. Huruf-huruf tersebut kemudian dirangkai menjadi kata-kata yang mengandung arti tertentu. Sementara kata-kata dirangkai menjadi kalimat, kalimat yang sempurna disusun menjadi alinea, tulisan baik berupa artikel, kumpulan tulisan naskah, deskripsi maupun buku sebagai formulasi yang lengkap. Pada awal mulanya koleksi perpustakaan terdiri dari tulisan-tulisan pada papirus, perkamen, daun lontar, tablet tanah liat, gulungan-gulungan tulisan dan benda-benda lain. Berbagai macam tulisan itulah yang dikumpulkan, disimpan, dan dipergunakan oleh masyarakat sebagai sumber ilmu pengetahuan dan informasi bagi masyarakat. Hal tersebut kemudian berproses dan berkembang secara bertahap sesuai dengan perkembangan kebudayaan manusia yang kemudian perkembangan perpustakaan dapat kita lihat dan digunakan seperti sekarang ini. Dengan melihat perkembangan perpustakaan dapat dikatakan bahwa perpustakaan menjadi rantai masa lalu, pijakan bagi kehidupan manusia di masa sekarang dan merupakan pembimbing untuk melangkah ke masa depan (Sutarno, 2006:13-15). Sejarah mencatat, bahwa terdapat sejumlah perpustakaan yang pernah didirikan oleh manusia yaitu: 1. Masa Sebelum Masehi Perpustakaan yang paling awal ada di kota Nivine dibangun sekitar tahun 669-636 SM. Kemudian perpustakaan kerajaan Babylonia dan Assyria yang memiliki kira-kira 10.000 bahan pustaka berupa tablet tanah liat karya Raja Ashurbanipal Raja Assyiria. Selanjutnya perpustakaan di kuil Horus, Mesir yang didirikan sekitar tahun 337 SM yang koleksinya berupa gulungan papirus yang berisi tentang ilmu astronomi, agama dan perburuan (Sutarno, 2003:3). 2. Masa Yunani Kuno Peradaban Yunani mengenal tulisan Mycena sekitar 1500 SM, kemudian tulisan tersebut lenyap. Sebagai penggantinya, orang Yunani menggunakan 22 aksara temuan orang Phoenicia, kemudian dikembangkan menjadi 26 aksara seperti yang kita kenal sekarang. Perkembangan perpustakaan Yunani mencapai puncaknya pada masa Abad Hellenisme yang ditandai dengan penyebaran ajaran dan kebudayaan Yunani. Perpustakaan yang terkenal adalah perpustakaan Alexandria yang memiliki 700.000 gulungan koleksi pada abad pertama SM yang koleksinya adalah teks Yunani dan manuskrip segala bahasa dari semua penjuru dunia. Semua gulungan papirus ini disunting, disusun menurut bentuknya, dan diberi catatan untuk disusun menjadi sebuah bibliografi sastra Yunani yang semuanya itu disusun oleh semua pustakawan perpustakaan Alexandria yang mereka adalah ilmuwan ulung yang ahli dalam bidangnya (Sulistyo-Basuki, 1991:23). 3. Masa Roma dan Byzantium Kebudayaan Yunani mempengaruhi kehidupan budaya orang Roma, ini terbukti banyak orang Roma yang mempelajari sastra, filsafat dan ilmu pengetahuan Yunani. Pada waktu itu, Julius Caesar memerintahkan agar perpustakaan terbuka untuk umum, sehingga perpustakaan tersebar ke seluruh kerajaan Roma. Saat itu, muncul bentuk buku baru yaitu codex yang merupakan kumpulan parchmen, diikat serta dijilid menjadi satu seperti buku yang kita kenal sekarang. Codex digunakan secara besar-besaran pada abad ke-4. Perpustakaan Roma mengalami kemunduran tatkala kerajaan Roma mulai mundur, perpustakaan lenyap karena serangan orang-orang barbar yang tersisa hanya perpustakaan biara. Ketika Kaisar Konstantin Agung menjadi raja Kerajaan Roma Barat dan Timur pada tahun 324. Raja memilih ibukota di Byzantium, yang diubah menjadi Konstantinopel yang kemudia didirikan perpustakaan kerajaan yang menekankan karya Latin karena bahasa Latin menjadi bahasa resmi hingga abad ke-6. Koleksi perpustakaan menjadi bertambah dengan adanya karya Kristen dan non-Kristen baik dalam bahasa Yunani maupun Latin yang mencapai 120.000 buku (Sulistyo Basuki, 1991:23-24). 4. Masa Arab Agama Islam muncul pada abad ke-7 yang kemudian Islam menyebar kedaerah sekitar Arab dan dengan cepat pula pasukan Islam menguasai Syria, Babylonia, Mesopotamia, Persia, Mesir, seluruh bagian utara Afrika serta sampai di Spanyol. Dalam abad ke-8 dan ke-9, ketika Konstantinopel mengalami kemandegan dalam karya sekuler, maka Baghdad berkembang menjadi pusat kajian karya Yunani. Ilmuwan Muslim mulai mempelajari dan menerjemahkan karya filsafat, pengetahuan, dan kedokteran Yunani ke dalam bahasa Arab, juga dari versi bahasa Syriac ataupun Aramaic (Sulistyo-Basuki, 1991:24) . Perpustakaan pada waktu itu, disamping menjadi tempat penyimpanan buku dan pelayanan publik, juga berfungsi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan pengetahuan. Perpustakaan yang terkenal yaitu perpustakaan Bait al-Hikmah yang mengalami masa kejayaan pada pemerintahan Khalifah al-Ma’mun pada tahun 815 Masehi (Qalyubi dkk, 2007:51). Kemunduran perpustakaan diawali dengan kevakuman dan kemunduran Islam, juga karena serangan dari pihak musuh-musuh Islam seperti tentara Mongol dan Tar-Tar yang merampas dan menghancurkan perpustakaan Islam, sehingga perpustakaan hancur dan umat Islam mengalami kemerosotan dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang sangat signifikan. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa sejarah perpustakaan dari masa ke masa, banyak terjadi perubahan yang menghambat dan menguntungkan dalam proses perkembangan sebuah perpustakaan. Perpustakaan mencerminkan kebutuhan sosial, ekonomi, kultural dan pendidikan suatu masyarakat (Sulistyo-Basuki, 1991:25). Sehingga perkembangan sebuah perpustakaan, tidak terlepas dari perkembangan masyarakat itu sendiri, karena kondisi perkembangan masyarakat sangat mempengaruhi perkembangan sebuah perpustakaan. Daftar Pustaka Lasa Hs. 2009. Kamus Kepustakawanan Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher. Laugu, Nurdin.2011. Islam dan Ilmu Keadaban: 50 Tahun Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga.Yogyakarta: Fakultas Adab dan Ilmu Budaya dan Penerbit Belukar. Nurhadi, Muljani A.1983. Sejarah Perpustakaan dan Perkembangannya di Indonesia. Yogyakarta:Andi Offset. Qalyubi, Syihabuddin, dkk (Ed). 2007. Dasar-Dasar Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Yogyakarta: Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi, Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta . Sulistyo-Basuki. 1994. Periodesasi Perpustakaan Indonesia. Bandung: Remaja Rosdakarya. Sutarno.2003.Perpustakaan dan Masyarakat.Jakarta:Yayasan Obor Indonesia. ______.2006. Perpustakaan dan Masyarakat.Jakarta:Sagung Seto. ______.2008.1 Abad Kebangkitan Nasional 1928-2008&Kebangkitan Perpustakaan. Jakarta:Sagung Seto. Undang-Undang Republik Indonesia No.43 Tahun 2009 Tentang Kearsipan dan Undang-Undang Republik Indonesia No. 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan. 2010.Yogyakarta:Pustaka Timur. Sumber: http://sejarah.kompasiana.com

4, February 2014

Sebelum Menyesal, Kenali Asuransi Mobil Anda

Saat musim hujan tiba, ancaman banjir terhadap kendaraan di jalan-jalan akibat banyak genangan, bisa membuat pemilik was-was. Benarkan kalau memiliki asuransi bisa membuat Anda lebih tenang dalam menjalankan aktivitas? Boleh jadi, ada yang merasa aman karena menganggap segalanya bakal diganti oleh asuransi. Namun, jangan senang dulu. Bisa jadi polis asuransi yang Anda miliki tidak menanggung klausul risiko banjir. Perencana keuangan dari OneShildt Financial Planning, Mohammad Andoko mengatakan, sedikitnya ada dua jenis polis asuransi yang sediakan oleh perusahaan asuransi. Pertama, asuransi dengan dengan konsep Total Loss Only (TLO). Pada jenis ini, biasanya kerugian yang diganti mencapai lebih dari 75 persen harga mobil yang diakibatkan oleh kecelakaan lalu lintas, kebakaran, pencurian, dan perampasan. "Tapi untuk kerugian akibat bencana alam seperti banjir biasanya tidak di-cover dalam skema ini," ujar Andoko saat diwawancarai Plasadana.com untuk Yahoo Indonesia. Kedua, agar memiliki perlindungan kerusakan kendaraan yang diakibatkan oleh banjir, maka pemilik mobil harus memilih perlindungan asuransi jenis komperhensif. Tentu jenis ini jauh lebih lengkap dibanding skema TLO dengan penambahan klausul banjir dan huru-hara. "Makannya, pelajari lagi polis asuransi kendaraan yang Anda miliki apakah sudah mencakup masalah banjir atau belum," papar dia. Jika belum, tidak ada salahnya melakukan perubahan terhadap layanan asuransi yang Anda miliki guna mencegah kehilangan aset yang lebih besar. Dengan catatan, Anda memiliki uang lebih yang dapat digunakan untuk pembayaran premi. Secara teori, besarannya tidak lebih dari 10 persen pendapatan bulanan. "Besaran 10 persen itu termasuk dengan perlindungan kerugian aset yang lain termasuk properti. Jadi, jangan lupa dihitung-hitung untuk perlindungan aset yang lain juga," terang dia. Secara terpisah, Agen Asuransi dari Asuransi Central Asia, Ardiansyah AP mengatakan, setiap pemilik kendaraan yang ingin mendaftarkan polis asuransi sebaiknya membaca dengan seksama setiap klausul dalam perjanjian. Bukan saja terkait apakah risiko banjir ditanggung atau tidak, tapi juga berhubungan dengan bagaimana agar Anda bisa mengajukan klaim asuransi saat mobil terendam banjir. Pada beberapa perusahaan, kata dia, risiko banjir yang dimaksud tidak termasuk dengan situasi di mana Anda menerobos genangan air yang tinggi. Anda dianggap dengan sengaja membawa kendaraan dalam situasi yang berisiko bagi kerusakan kendaraan. Lain halnya jika kendaraan dalam keadaan parkir atau Anda tidak dengan sengaja terlibat dalam situasi banjir yang menyebabkan kendaraan mogok. "Ada baiknya tanya dulu kepada agen atau pihak perusahaan mengenai detil perjanjian agar Anda tidak merasa ada informasi yang kurang lengkap diterima," papar dia Namun, pada perusahaan lain ada juga yang bersedia menanggung segala jenis risiko banjir. Termasuk perilaku menerabas genangan walaupun dengan nilai klaim yang reatif kecil. "Meski pada akhirnya pihak perusahaan yang melakukan survei bisa kesulitan membuktikan Anda menerobos atau tidak, tapi lebih baik jangan lakukan hal itu," tandasnya.